Selasa, 04 Mei 2010

PENDIDIKAN NILAI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

By Sarbaitinil

Introduction
Manusia adalah mahkluk budaya dan mahkluk sosial. Sebagai mahkluk sosial manusia selalu hidup dalam interaksi dan interdependensi sesamanya. Manusia saling membutuhkan sesamanya baik jasmaniah (segi-segi ekonomis) maupun rohaniah (sosial dan cinta). Dalam proses interaksi inilah diperlukan nilai-nilai, yang merupakan faktor inherent dengan antar hubungan sosial itu. Celcius dalam Mohammad Noor Syam (1983: 127) menyatakan bahwa “dimana ada masyarakat, di sana ada hukum”. Hukum ialah norma-norma, atau nilai-nilai untuk mengatur antar hubungan sosial manusia.
Nilai-nilai yang menjadi milik bersama dalam suatu masyarakat merupakan perekat bagi masyarakat itu sendiri. Kalau suatu masyarakat telah mempunyai nilai yang sama tentang yang berguna dan yang tidak berguna, tentang yang cantik dan yang tidak cantik, tentang yang baik dan yang tidak baik/buruk, maka masyarakat yang seperti itu seolah-olah telah direkat oleh suatu norma yang sama, sehingga anggota masyarakat itu akan mempunyai rasa solidaritas yang tinggi. Jadi kalau nilai-nilai ini telah menjadi milik bersama dan telah tertanam dengan emosi yang mendalam, maka anggota masyarakat itu akan bersedia berkorban dan berjuang untuk mempertahankan nilai-nilai itu., misalnya mempertahankan bendera kebangsaan, membela nama baik almamater, organisasi, keluarga dan instansi/lembaga di mana ia bekerja, yang mempunyai nilai khusus bagi mereka.
Untuk lebih meningkatkan pemahaman kita tentang nilai yang berkaitan dengan pengertian nilai, hakekat nilai, hierarki nilai, bentuk dan tingkatan nilai, nilai pendidikan dan pendidikan nilai. Dalam tulisan akan dipaparkan secara rinci semua yang berkaitan dengan nilai. Namun sebelum melangkah lebih jauh kepada pembahasan mengenai topik diatas, ada beberapa hal yang sering terjadi dan cenderung masih dilakukan oleh yang namanya manusia, kapan dan dimana saja yaitu mengenai sederetan pertanyaan yang tidak perlu dijawab untuk saat ini, tetapi hanya untuk dicamkan, direnungkan dan selanjutnya dicarikan solusi untuk menyelesaikan/sekurang-kurangnya meminimalisir supaya hal tersebut tidak terjadi lagi. Pertanyaan tersebut adalah mengapa:
1. Pejabat Negara dan politikus korupsi, kolusi, dan nepotisme
2. Penegak hukum justru cenderung melanggar hukum
3. Elit politik “cakar-mencakar” dan berusaha menjatuhkan lawannya.
4. Kaum intelektual cenderung melanggar etika profesi dan visi-misi luhurnya.
5. Sesama anak bangsa menabur benih kebencian, permusuhan, dengki, dendam.
6. Mahasiswa, siswa sering terlibat dalam aksi-aksi kekerasan, pornografi, seks bebas, narkoba, dan aneka macam penyakit sosial lainnya. Dunia pendidikan masih diwarnai perilaku siswa membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hingga mengkonsumsi minuman keras dan narkotika. Bahkan sudah ada gejala peredaran adegan porno yang perankan oleh para pelajar
7. Antar sesama anggota keluarga sering terjadi percekcokan, perkelahian, bahkan berakhir dengan perceraian, pembunuhan.
8. Tragedi-tragedi kemanusiaan yang memalukan, memilukan dan seterusnya
Untuk itu kita merasakan betapa pentingnya dilakukan suatu tindakan dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat, melalui jalur pendidikan/lembaga pendidikan. Dalam hal ini yang menjadi sasarannya adalah generasi muda (siswa, mahasiswa/peserta didik), karena merekalah generasi yang akan meneruskan dan mengisi perjuangan bangsa dan negara ke arah yang lebih maju dan berakhlak. Salah satu jalannya adalah memberikan pemahaman dan pendidikan nilai kepada masyarakat. Seperti yang dinyatakan oleh Sukanta (2007) bahwa ”pendidikan nilai adalah merupakan nilai pendidikan itu sendiri”. Artinya pendidikan nilai itu penting dilaksanakan dan diberikan kepada siapapun dalam kehidupan bermasyarakat. Asalkan manusia itu berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia lain sudah dipastikan pendidikan nilai itu sangat diperlukan. Apakah nillai itu, dimanakah pendidikan nilai itu didapatkan?, siapakah yang mengajarkan?, dimana mengajarkan nilai?, kapan mengajarkan nilai, dan bagaimana mengajarkan nilai?. Ini merupakan pertanyaan yang mesti diketahui oleh setiap manusia apalagi manusia itu terdiri dari keluarga, pendidik/lembaga pendidikan yang memegang peranan penting dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus bangsa..

What is Values
Segala sesuatu yang di alam semesta ini, lansung tidak lansung, disadari ataupun tidak, mengandung nilai-nilai tertentu bagi kehidupan manusia. Nilai adalah seluas potensi kesadaran manusia. Menurut Frondizi (2001:1) minat untuk mempelajari keindahan belum menghilang sama sekali; keindahan, sebagai mana yang nampak dewasa ini sebagai salah satu perwujudan dari cara pandang yang khas terhadap dunia, sebuah cara pandang itulah yang disebut dengan nilai. Dan John Dewey (1859-1952) berpendapat bahwa “value is any objek of social interest”. Sedangkan Brubacher (dalam Mohammad Noor Syam, 1983: 132) menyatakan pengertian nilai itu tak terbatas, sangat erat dengan pengertian-pengertian dan aktifitas manusia yang kompleks. Selanjutnya dalam Encyclopedi Britannica (dalam Mohammad Noor Syam, 1983:133) dinyatakan:
....What is Values... The immediate and natural answer to this question is to say that value is a determination or quality of and object which involves any sort of apriciation or interest (28:963)
…Jawaban lansung dan wajar atas pertanyaan ini ialah bahwa nilai itu adalah suatu penetapan atau suatu kualitas sesuatu objek yang menyangkut suatu jenis apresiasi atau minat.
Nilai bukan semata-mata untuk memenuhi dorongan intelek dan keinginan manusia. Nilai justru berfungsi untuk membimbing dan membina manusia supaya menjadi lebih luhur, lebih matang sesuai dengan martabat human-dignity, dan human dignity ini ialah tujuan itu sendiri, tujuan dan cita manusia.
Konsep-konsep di atas sejalan dengan konsep yang dikemukakan oleh Kant yang menyatakan bahwa:...values more objektively. To them values are intrincic; they derived from their designer or maker rather than from their user (5:119).”…nilai-nilai itu bersifat lebih objektif. Bagi mereka nilai-nilai itu bersifat intrinsik; nilai-nilai itu berasal dari Maha Pencipta bukan dari manusia.
Secara garis besarnya nilai itu dapat dibagi dua kelompok yaitu :
a. Nilai nurani (values of being) adalah nilai-nilai yang ada dalam diri manusia, kemudian berkembang menjadi perilaku serta cara kita memperlakukan orang lain seperti: kejujuran, keberanian, cinta damai, keandalan diri, potensi, disiplin, tahu batas, kemurnian, dan kesesuaian.
b. Nilai-nilai memberi (Values of giving) adalah nilai-nilai yang perlu dipraktekkan atau diberikan yang kemudian akan diterima sebanyak yang diberikan seperti: setia, dapat dipercaya, hormat, cinta, kasih saying, peka, tidak egois, baik hati, ramah, dan lain-lain.

Value Reality
Scheler (dalam Frondizi, 2001: 114) menyatakan bahwa ”nilai merupakan kualitas yang tidak tergantung pada benda; benda adalah sesuatu yang bernilai. Misalnya sekalipun pembunuhan tidak ”dinilai” jahat, itu akan terus menjadi jahat. Dan meskipun yang baik tidak pernah ”dinilai” sebagai baik, itu akan tetap akan menjadi baik”
Nilai sebagai kausalitas independen tidak berbeda dengan benda. Sebagaimana warna biru tidak berubah menjadi merah manakala objek biru dicat merah. Demikian juga halnya dengan nilai yang tetap tidak terpengaruh oleh perubahan yang terjadi dalam objek yang digabunginya. Pengkhianatan sahabat saya misalnya: tidak mengubah nilai persahabatan. Ketidaktergantungan nilai mengimplikasikan ketidak-dapat-berubahnya; nilai itu tidak berubah. Selain itu nilai itu mutlak; nilai tidak dikondisikan oleh perbuatan, tanpa memperhatikan hakikatnya, nilai itu bersifat historis, sosial, bilogis, atau murni individual. Hanya pengetahuan kita tentang nilai yang bersifat relative, bukan nilai itu sendiri. Untuk lebih jelasnya mengenai hakekat nilai itu dapat kita kaji dari aspek aksiologis, epistemologis, dan aksiologis pendidikan nilai.
Aspect of Ontologis, Epistemologis, Aksiologis education value

Dasar Ontologis Pendidikan Nilai
Aspek realitas yang dijangkau teori dan pendidikan nilai melalui pengalaman pancaindera adalah dunia pengalaman manusia secara empiris. Objek materil pendidikan nilai adalah manusia seutuhnya, manusia yang lengkap dengan aspek-aspek kepribadiannya. Objek formal pendidikan nilai dibatasi pada manusia seutuhnya di dalam fenomena atau situasi pendidikan. Didalam situasi social manusia itu sering berperilaku tidak utuh, hanya menjadi makhluk berperilaku individual dan/atau makhluk social yang berperilaku kolektif.
Sistem nilai harus terwujud dalam hubugan inter dan antar pribadi yang menjadi syarat mutlak (condition sine qua non) bagi terlaksana mendidik dan mengajar. Hal itu terjadi mengingat pihak pendidik dan berkepribadian sendiri secara utuh memperlakukan peserta didiknya secara terhormat sebagai pribadi pula.

Dasar Epistemologis Pendidikan Nilai
Dasar Epistemologis diperlukan oleh pendidikan nilai atau pakar pendidikan nilai demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggungjawab. Pendidikan nilai memerlukan pendekatan fenomenologis yang akan menjadi studi empiric dengan studi kualitatif-fenomenologis. Karena penelitian tertuju tidak hanya pemahaman dan pengertian, Verstehen, Bodgan & Biklen (dalam Elmubarok, 2008:18), melainkan untuk mencapai kearifan (kebijaksanaan atau wisdom), fenomena pendidikan.
Inti dasar epistemologis ini adalah agar dapat ditentukan bahwa dalam menjelaskan objek formalnya, telaah pendidikan nilai tidak hanya mengembangkan ilmu terapan melainkan menuju kepada telaah teori dan pendidikan nilai sebagai ilmu otonom yang mempunyai objek formil sendiri atau problematika sendiri sekalipun tidak dapat hanya menggunakan pendekatan kuantitatif ataupun eksperimental, Campbell & Stanley (dalam Elmubarok, 2008:18). Dengan demikian uji kebenaran pengetahuan i dan atau pragmatis.

Dasar Aksiologis Pendidikan Nilai
Teori pendidikan nilai tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Oleh karena itu nilai pendidikan nilai tidak hanya bersifat intrinsic sebagai ilmu seperti seni untuk seni, melainkan juga nilai ekstrinsik dan ilmu untuk menalaah dasar-dasar kemungkinan bertindak dalam praktek melalui kontrol terhadap pengaruh yang negatif dan meningkatkan pengaruh yang positif dalam pendidikan. Dengan demikian pendidikan nilai tidak bebas nilai mengingat hanya terdapat batas yang sangat tipis antar pekerjaan pendidikan nilai dan tugas pendidik sebagai pendagogik. Dalam hal ini relevan sekali untuk memperhatikan pendidikan nilai sebagai bidang yang sarat nilai, seperti yang dikatakan oleh Phenic (dalam Elmubarok, 2008:19). Itulah sebabnya pendidikan nilai memerlukan teknologi pula tetapi pendidikan bukanlah bagian dari Iptek. Namun harus diakui bahwa Pendidikan nilai jauh pertumbuhannya dibandingkan dengan kebanyakan ilmu social dan ilmu perilaku. Lebih-lebih di Negara Indonesia.

Dimanakah Pendidikan Nilai itu Didapatkan?
Orang tua sangat mengandalkan, menuntut, dan mengharapkan bahwa guru sekolah, kyai, pembina dan sejenisnya dapat mewakili mereka mengembangkan nilai moral dan sistem nilai pada anak-anaknya. Namun orang tua kurang menyadari bahwa anak-anak mereka hanya sebentar bergaul dengan para pendidik (guru, Kyai, pembina). Sementara itu nilai yang diajarkan para guru perlu dukungan iklim yang sejuk dari orang tua, dan bukan sebaliknya. Contoh: Di sekolah para pendidik mengajarkan agar para siswa berbuat jujur, tetapi orang tuanya mengajarkan ; ”nak! Jika ada telepon untuk ibu, katakan ibu tidak ada, padahal saat itu ibunya ada di rumah. Kalau itu sering terjadi, maka sistem nilai yang dipupuk tersebut tidak akan tumbuh subur, yang terjadi adalah kekecewaan dari semua pihak. Oleh karena itu, pendidikan nilai merupakan tugas orang, para pendidik, dan masyarakat untuk bekerja sama secara terpadu.
Orang tua sangat berpotensi untuk mengembangkan moral anak, konsekwensinya ialah orang tua dalam keluarga harus mampu menciptakan suasana yang kondusif dalam mengembangnkan nilai. Sedangkan pendidik berperan dalam mengembangkan nilai ketika anak mulai masuk sekolah. Selanjutnya ketika anak-anak beranjak dewasa dan bergaul dengan masyarakat, mereka akan beranjak dari dominasi rumah dan sekolah ke lingkungan masyarakat. Konsekwensinya keteladanan tokoh masyarakat dapat menjadi contoh dalam mengidentifikasikan dan memperkuat nilai yang telah dan akan disikapinya.
Dari uraian di atas, harapan kita adalah bahwa yang mengajarkan nilai adalah orang tua di rumah, pendidik di sekolah, dan tokoh masyarakat di lingkungan masyarakat. Pada kenyataanya, hal ini belum berjalan secara harmonis sesuai dengan yang diharapkan.

Di Mana Mengajarkan Nilai
Nilai yang diajarkan di sekolah atau lembaga lain, baik yang positif maupun yang negatif kurang berpengaruh pada diri anak jika dibandingkan dengan pendidikan nilai yang dikembangkan di rumah. Keluarga di rumah memiliki potensi yang sangat drastis dan praktis dalam menularkan dan mewariskan nilai-nilai kepada anak-anaknya dibandingkan orang lain, unsur lain, atau kelompok lain. Keadaan seperti ini sudah semestinya demikian, sebab keluarga adalah teladan utama dan meiliki tanggungjawab yang sangat mendasar. Kelaurga adalah wadah pendidikan utama dan pertama. Setelah itu anak-anak akan belajar pendidikan nilai di sekolah dan diluar rumah. Pertanyaannya adalah sudah siapkah/mapankah rumah, sekolah, dan masyarakat sebagai tempat untuk belajar nilai? Kenyataannya, hal ini masih pincang, sebab antara rumah, sekolah dan masyarakat masih terjadi kekurangan dalam kesinambungannya.
Dari uraian di atas hendaklah orang tua/keluarga, sekolah, dan masyarakat menyatukan tekad, menyamakan cara penanaman nilai kepada anak/generasi muda dengan menjalin komunikasi yang baik antara keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk tercapainya masyarakat yang menjunjung nilai-nilai yang mereka anuti.
Kapan Mengajarkan Nilai
Bull (dalam Elmubarok, 2008:34) menyatakan bahwa ada empat tahap perkembangan yang dilalui seseorang. Pertama, tahap anatomi yaitu tahap nilai baru merupakan potensi yang siap dikembangkan. Kedua, tahap heteronomi yaitu tahap nilai berpotensial dikembangkan melalui aturan dan pendisiplinan. Ketiga, tahap sosionomi yaitu tahap nilai berkembang di tengah teman-teman sebaya dan masyarakatnya. Keempat, tahap otonomi yaitu tahap nilai mengisi dan mengendalikan kata hati dan kemauan bebasnya tanpa tekanan dari sekeliling lingkungannya.
Mengingat nilai itu berkembang melalui tahapan-tahapan perkembangan anak dan lingkungan yang mana anak memiliki hak dan mengembangkan dirinya, maka pendidikan nilai hendaklah diberikan secara dini, sekarang, dan selalu setiap waktu. Gagasan untuk mengajarkan nilaikepada anak-anak sampai mereka”cukup tua untuk memilih sistem nilai mereka sendiri” adalah gagasan yang dapat mendatangkan bencana/alias salah.

Bagaimana Mengajarkan Nilai
Pembelajaan dapat meliputi langkah orientasi/informasi, pemberian contoh, latihan/pembiasaan,umpan balik, dan tindak lanjut. Langkah-langkah tersebut tidak harus berurutan, melainkan berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan. Dengan proses seperti itu, diharapkan apa yang pada awalnya sebagai pengetahuan, kini menjadi sikap, dan kemudian berubah wujud menjelma menjadi perilaku yang dilaksanakan sehari-hari.
Metode terbaik mengajarkan nilai kepada anak-anak adalah contoh atau teladan. Teladan selalu menjadi guru yang paling baik, sebab sesuatu diperbuat melalui keteladanan selalu berdampak lebih luas, jelas dan lebih berpengaruh daripada yang dikatakan. Keteladaan yang dimaksud disini adalah keteladanan dari semua unsur yaitu orang tua/keluarga, pendidik/guru, para pemimpin, dan masyarakat. Disamping keteladanan sebagai guru yang utama, pengajaran nilai di sekolah perlu juga menggunakan metode pembelajaran yang menyentuh emosi dan keterlibatan para siswa seperti metode cerita, simulasi, dan imajinasi. Dengan metode seperti itu siswa akan mudah menangkap konsep nilai yang terkandung didalamnya.
Selanjutnya pertanyaan/fenomena yang telah dikemukakan pada bagian pendahuluan di atas, semestinya tidak akan terjadi apabila orang tua, lembaga pendidikan/sekolah, pemerintah, dan masyarakat berhasil mengajarkan dan menerapkan nilai moral yang berlaku di masyarakat. Adapun nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam diri siswa adalah nilai-nilai nurani (values of being) yang meliputi ketaqwaan kepada Tuhan YME, kejujuran, rasa percaya diri, kesabaran, ketertiban, dan keberanian. Sedangkan nilai-nilai yang memberi (values of giving) meliputi kesetiaan, dapat dipercaya, menghormati, empati, dan simpati, kasih sayang, ramah, dan adil.
Pendidikan nilai sebenarnya sudah didapatkan anak semenjak berada di lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar. Secara sadar atau tidak, mereka sudah mulai mengembangkan pendidikan nilai melalui pengamatan terhadap orang tua, teman, media, yang pada akhirnya mereka akan meniru apa yang telah mereka lihat setiap hari. Pengembangan pendidikan nilai dilanjutkan pada lembaga pendidikan atau sekolah, dan seterusnya ke masyarakat.
Bagaimana metode pendidikan nilai yang menyenangkan? Sebagai guru pertama bagi anak, orangtua berperan penting menjadi pelaku nilai, baik nilai-nilai nurani maupun nilai-nilai memberi. Mulailah dari hal kecil seperti membiasakan salam, berkata santun, hingga pada hal paten seperti salat lima waktu bagi keluarga muslim. Sebagai teladan, orangtua harus menunjukkan kepada anak bahwa orangtua “menjunjung tinggi nilai itu.
Selanjutnya sekolah sebagai subkontraktor pendidikan nilai mempunyai tanggung jawab melanjutkan penanaman pendidikan nilai. Di sekolah ada guru yang mengajarkan pendidikan agama, guru pendidikan kewarganegaraan, dan bahkan guru bimbingan dan konseling, tetapi pada kenyataannya jam pelajaran sangatlah minim dibandingkan dengan kuantitas jam pelajaran pada disiplin ilmu lainnya.
Karena itu seharusnya guru yang mengajarkan disiplin ilmu lain, ikut aktif menanamkan pendidikan nilai. Sehingga pelaksanaannya kontinyu tidak terpusat pada satu atau dua mata pelajaran. Sehingga semua yang terlibat pada proses pembelajaran di sekolah, bisa menjadi pelaku nilai moral, karena seorang guru panutan bagi siswanya baik dalam berucap ataupun bersikap. Kegagalan orang tua atau guru dalam menanamkan pendidikan nilai bisa jadi karena metode yang kita gunakan kurang efisien atau membosankan. Untuk itu sudah saatnya kita mencoba membenahinya dengan metode lainnya, sehingga tujuan akan tercapai.
1. Pertama, diskusi atau problem solving dimana anak kita libatkan untuk mengemukakan ide dalam mencari solusi masalah yang sering mereka alami.
Sementara kita membantu mereka mengembangkan minat dan kemampuan mereka sendiri untuk berbicara. Nilai-nilai yang kita ajarkan perlahan-lahan namun pasti akan menular kepada mereka apabila kita sering berinteraksi.
2. Kedua, permainan (game) skenario kita betul-betul menempatkan diri anak dalam situasi yang memperlihatkan konsekuensi serta hubungan sebab akibat dalam berbagai pilihan atau perilaku.
3. Ketiga, penghargaan dan pujian yang positif, perhatian positif yang kita berikan saat seorang anak menunjukkan citra diri (self-image) dan individualitasnya dapat membangun rasa percaya dirinya dan hal ini diperlukan untuk mendapatkan keandalan diri (self-reliance). Pujilah mereka saat menunjukkan tindakan pengembangan nilai karena akan membuat mereka bangga dan merasa dapat diandalkan.
4. Keempat, membiasakan pepatah-pepatah atau kata-kata bijak, untuk menanamkan nilai moral yang kuat kedalam benak seorang anak kita harus membiasakan pepatah atau kata bijak yang menyatakan suatu nilai moral.
5. Kelima, out bond. kegiatan out bond sangat menyenangkan bagi siswa, karena out bond bisa menumbuhkan keberanian dalam menghadapi tantangan, menentukan keputusan, dan juga melatih kerja sama.

SUMMARY
1. Pendidikan nilai pada anak, sudah seharusnya orang tua dan lembaga pendidikan berbenah diri dengan mengubah tradisi dan memanfaatkan sarana prasana yang menunjang pengembangan pendidikan nilai. Mari bahu membahu untuk mewujudkan pribadi generasi kita yang mengaplikasikan pendidikan nilai. Oleh karena itu pendidikan nilai harus kita berikan sekarang dan seterusnya.
2. Tindakan dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat, melalui jalur pendidikan/lembaga pendidikan sangat penting dilakukan. Dalam hal ini yang menjadi sasarannya adalah generasi muda (siswa, mahasiswa/peserta didik), karena merekalah generasi yang akan meneruskan dan mengisi perjuangan bangsa dan negara ke arah yang lebih maju dan berakhlak
3. Mengajarkan nilai adalah orang tua di rumah, pendidik di sekolah, dan tokoh masyarakat di lingkungan masyarakat. Pada kenyataanya, hal ini belum berjalan secara harmonis sesuai dengan yang diharapkan.
4. Fenomena yang telah dikemukakan pada bagian pendahuluan di atas, semestinya tidak akan terjadi apabila orang tua, lembaga pendidikan/sekolah, pemerintah, dan masyarakat berhasil mengajarkan dan menerapkan nilai moral yang berlaku di masyarakat, tapi apakah keluarga, sekolah dan masyarakat telah sungguh melaksanakan pendidikan nilai itu ?

REFERENCES
Dewey, John. 1966. Democration and Education. London: A The Press Paperback
Elmubarok, Zaim. 2008. Membumikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta
Frondizi, Risieri. 2001. Filsafat Nilai. Jogjakarta: Pustaka Pelajar
K. Bertens. 2000. Perspektif Etika. Jogjakarta: Kanisius
Magnis, Franz -Suseno.1999. Berfilsafat dari Konteks. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Noor Syam, Mohammad. 1983. Filsafat Pendidikan dan Dasar-Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional
Stramel, James S.. 2002. Cara Menulis Makalah Filsafat. Jogjakarta: Pustaka Pelajar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar